Permulaan tahun ajaran baru 1431 H di Institut Studi Islam Darussalam diwarnai dengan beragam kegiatan beruntun, dimulai dari Pekan Perkenalan bagi Mahasiswa Baru hingga upacara pembukaan yang disertai dengan kuliah perdana. Pada tahun ini, ada sekitar enam ratus mahasiswa yang akan mengenyam pendidikan bersama, terdiri dari dua ratus mahasiswa baru, dan empat ratus lainnya merupakan mahasiswa yang terdiri dari semester tiga hingga semester akhir.
Acara pembukaan yang dipimpin langsung oleh Rektor Institut Studi Islam Darussalam mendapat sambutan hangat dari seluruh Mahasiswa, beliau menyampaikan banyak terimakasih atas kehadiran para mahasiswa dan juga berpesan kepada semuanya agar lebih tekun dalam menuntut ilmu.
Tidak berhenti disitu saja, tapi dilanjutkan dengan kuliah perdana yang disampaikan oleh salah seorang ketua jurusan program studi Akidah dan Filsafat, beliau adalah Dr. Muhammad Cholid Muslih, seorang doktor di bidang akidah dan filsafat, lulusan Al-Azhar Kairo, dan sekarang mulai berkecimpung kembali dalam kegiatan mengajar di kampus ini.
Dalam kuliah perdana, beliau menyampaikan empat alasan dan satu catatan kenapa harus belajar di ISID. Alasan yang pertama, ialah memenuhi panggilan langit, yaitu menuntut ilmu, salah satu perkataan yang beliau tekankan ialah perkataan K.H. Imam Zarkasyi tentang ilmu, beliau berkata bahwa “ Ilmu adalah Mustika yang paling utama”, dari perkataan tersebut, kita diharuskan mengambil ‘Ibrah atau pelajaran tentang betapa pentingnya ilmu, beliau juga mengggambarkan bagaimana sosok seorang kiyai yang berilmu pasti akan mendapat tempat terhormat didalam hati tiap jamaahnya, bagaimana tidak? Karena dengan adanya orang yang berilmu dalam suatu masyarakat, maka taraf kehidupan masyarakat tersebut akan bertambah.
Alasan yang kedua, ialah menyempurnakan ilmu yang sudah didapat dari KMI, beliau berkata bahwa ilmu-ilmu yang ada di KMI hanyalah berupa kunci-kunci wawasan, sedangkan untuk menyempurnakannya diperlukan kegiatan belajar yang lebih mendalam, yaitu dengan belajar di Institut Studi Islam Darussalam.
Alasan yang ketiga adalah, loyalitas, ketataan dan kejujuran terhadap Kiyai atau Pimpinan Pondok Modern, bagi yang berasal dari KMI, kuliah di kampus ini merupakan bentuk pengabdian kepada pondok dan peningkatan dalam bidang keilmuan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri. Beliau menekankan bahwa loyalitas itu penting, Umar R.A berkata : “ Tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, Tidak ada jama’ah tanpa seorang pemimpin, dan tidak ada seorang pemimpin tanpa ketaatan dari kaumnya”.
Alasan yang terakhir ialah, kelebihan ISID dibanding dengan Perguruan Tinggi lainnya di Indonesia, di ISID kita lebih gampang dan efisien ( irit ) untuk berkoordinasi satu sama lain, sehingga sangat disayangkan apabila antara kita tidak dapat mengoptimalkan fasilitas waktu yang lapang dan biaya yang super murah untuk mengadakan kegiatan sendiri. Begitupula dengan fasilitas kedekatan jarak dengan dosen, karena hampir dari seluruh fungsionaris ISID tinggal bersama dalam kampus. Sehingga beliau berkata: “ Jangan Kuliah Agama di Indonesia kecuali di ISID ”, perkataan ini mengingatkan kita dengan perkataan Dr. Hamid di sela-sela penutupan semester genap kemarin, “ if the Egypt comes to you, why you come to Egypt? “, beliau menyebut mesir, karena disanalah kota tujuan bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia, dan berhubung dosen-dosen ISID merupakan lulusan pusat Studi Islam disana, maka untuk apa kita datang kesana?. Pelajaran yang diajarkan pun sama, bahkan Dr. Cholid menerangakan keadaan di mesir yang tak jauh layaknya jakarta.
Dan sebagai penutup, beliau menambahkan satu catatan bahwa kehidupan yang akan kita jalani di ISID agar dipergunakan dengan sebaik-baiknya. “ Jangan seperti ayam yang mati di lumbung padi “, kiasan agar kita tidak menyia-nyiakan anugrah yang telah ada. Beliau menggambarkan hidup dalam lingkungan Islami seperti di Institut Studi Islam Darussalam merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai, selain miliu yang tercipta dengan budaya Gontory, ISID merupakan pusat studi Islam terbaik di Indonesia, dilengkapi dengan ribuan koleksi referensi asli dari timur tengah, sehingga para mahasiswa dapat mencerna frame work berpikir yang benar atas landasan Islam yang kokoh.
Begitulah suasana kuliah perdana kemarin, para mahasiswa pun mendapat pelajaran berharga dari pengalaman hidup Dr. Muhammad Cholid Muslih. Setelah mengetahui hal tersebut, alangkah ruginya para mahasiswa yang menyia-nyiakan waktu dengan hal kurang baik dan tidak membawa keuntungan sedikitpun bagi dirinya dan orang disekitarnya.
TAHUN AJARAN BARU ISID
Label: Campus Corner | author: ahmadfaizaladhaPosts Relacionados:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar