Puasa melatih seseorang untuk beramal ibadah dengan ikhlas. Allah menjanjikan pahala khusus bagi orang yang berpuasa dengan penuh keimanan, sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsy:”Puasa itu untukKU, dan Aku sendirilah yang membalasnya.”
Mengharap balasan dari Allah, tentunya hati harus dibersihkan dari pengharapan kepada sesama. Diriwayatkan dalam salah satu hadits bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya yang paling kutakuti atas kamu adalah syirik kecil. Sahabat bertanya, ”Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab,”Itulah riya. Di hari kiamat nanti Allah akan berkata kepada mereka :”Pergilah kamu kepada orang-orang yang menyebabkan kamu beramal ingin dipujinya. Mintalah balasan padanya!”
Banyak diantara kita yang bekerja hanya karena atasan. Atasan melihat, kita giat. Atasan cuti, kita bekerja sekehendak hati. Sebagai ilustrasi, ingat iklan obat batuk di televisi, seorang sekretaris begitu senang saat diberi tahu atasannya tidak bisa masuk kerja karena sakit batuk. Tapi betapa kagetnya dia ketika tiba-tiba bosnya datang. Begitu pula dalam beramal ibadah, seringkali tampak sungguh-sungguh bila di tengah orang banyak, namun sebaliknya beribadah asal-asalan bila sedang sendirian.
Alangkah capai bila bekerja hanya karena ingin dipuji orang, alangkah capai bila beramal hanya mengharap penghargaan orang. Pada saat kita sudah bekerja keras atau beramal dengan segala pengorbanan, kemudian ternyata tidak ada orang yang memuji atau menghargai kerja keras kita, streslah yang didapat.
Sayyidina Ali ra mengatakan bahwa tanda-tanda orang yang tidak ikhlas ada empat macam: Malas bila tidak ada yang melihat, Giat bila diperhatikan orang, Bertambah amal jika dipuji, dan mengurangi amal jika dicela.
Allah yang Maha bijaksana sebenarnya telah memberikan pelajaran yang begitu indah bagi kita bagaimana bersikap ikhlas, yaitu sebagai lawan dari riya. Betapa DIA memisahkan susu binatang ternak dari bercampurnya susu tersebut dengan tahi dan darah, padahal didalam perut binatang ketiga macam benda dan cairan itu sama-sama berada dalam satu wadah. Begitu pulalah mestinya ikhlas, walaupun bercampur dengan rasa bangga atau sombong yang ada pada diri manusia, ia harus bisa memisahkan diri sebagaimana halnya susu yang keluarnya putih tidak bercampur dengan tahi dan darah
Dalam pengabdian kepada Allah, baik yang sifatnya hablumminallah maupun hablum minannas, kita harus mampu mengkondisikan seolah-olah pandangan atau perhatian orang itu tidak ada, yang ada hanyalah pandangan dan pengawasan Allah.
Seorang bijak pernah berkata,”Seharusnya orang yang bekerja atau beramal itu mencontoh perilaku gembala kambing. Penggembala kambing, jika shalat siang hari di tengah kambing-kambingnya, sama sekali tidak mengharap pujian dari kambing-kambingnya.”
Dalam perjalanan menuju Ilahi, bila tidak disertai kesadaran yang tinggi untuk selalu dalam niat suci beribadah karena Allah semata, niscaya amal kita akan sia-sia. Begitu pula, bila bekal untuk akherat tidak kita persiapkan, niscaya kelak akan mengalami kesengsaraan. Apalagi bila keikhlasan tidak menyertai amal perbuatan kita, maka pahala kebaikan takkan pernah didapatkan.
Saudaraku... Di bulan ramadhan kesempatan untuk beramal begitu luas, pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan, tetapi janganlah kita bersikap seperti orang yang hendak pergi ke pasar dengan membawa tas yang penuh berisi guntingan kertas, sehingga orang-orang disekitar kita melihat tas yang kita bawa sambil berkata dengan penuh kekaguman ’alangkah penuh tas orang itu dengan uang.’ Namun tentu saja tidak akan berguna apa yang ada didalam tas itu karena tidak dapat dibelanjakan, kecuali sekedar mengharapkan pujian dari orang yang melihatnya. Na’udzu billahi min dzalik.
Ahmad Faizal Adha. Majlis dzikr Al Farras Bandung
AMAL SEJATI TAK BERHARAP DIPUJI
Label: Hikmah | author: ahmadfaizaladhaPosts Relacionados:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar