Berkatalah dengan baik (قل خيرا)

|

Puasa orang yang saleh adalah puasa yang tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, tetapi ia bisa mencegah anggota tubuhnya agar tidak berbuat maksiyat. Sehingga pahala kebaikannya tidak menjadi musnah.
Nabi SAW di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas ra, bersabda:”Lima perkara yang menghapuskan pahala puasa, ialah : berbohong, ghibah, mengadu domba, sumpah palsu dan memandang dengan syahwat.”
Ketika ditanya tentang kebanyakan hal-hal yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka, Rasulullah saw menjawab, “Mulut dan kemaluan” (HR Tirmidzi) Mulut bisa menjadi jalan kearah kebaikan, namun sebaliknya mulut juga bisa menjadi jalan ke arah keburukan. Lewat mulut bisa datang pahala, namun lewat mulut juga bisa menjadi jalan ke neraka.
Pada situasi zaman sekarang ini, seorang muslim/muslimah yang bekerja di kantor maupun bidang jasa juga ibu rumah tangga, sangat rentan terhadap perbuatan dosa yang diakibatkan oleh mulut. Kendali atau kontrol terhadap kebenaran ucapan pada saat terjadi pembicaraan sangat kurang sekali.
Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata, melalui lisan silaturrahim bisa terjalin dengan baik, bahkan bagi sebagian orang, berbicara merupakan pekerjaan utama. Namun menjadikan mulut untuk selalu berkata benar memang susah. Terkadang kebohongan harus dilakukan karena takut tidak tercapai tujuan, seringkali dusta menjadi penghias bibir agar mendapat simpati seseorang. Bahkan sepertinya hidup tidak lagi semarak tanpa gunjingan
Banyak hal disekitar kita yang bisa mengundang pembicaraan, mulai dari isu ekonomi-politik sampai gosip murahan menjadi makanan empuk yang menggiurkan. Semua orang merasakan lezatnya bergunjing, tetapi tidak semua orang menyadari bahwa bergunjing itu akan menjauhkan pelakunya dari surga.
Ghibah atau membicarakan kejelekan orang lain diumpakan seperti memakan daging saudaranya sendiri. Allah memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman di dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat:12, ”...sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian akan jijik kepadanya.”
Seorang muslim/muslimah yang menggunjingkan saudaranya pada hakekatnya sedang memberikan pahala kepada orang yang sedang digunjingkannya. Diriwayatkan, ada seseorang yang besok di hari kiamat diberikan kepadanya buku catatan amalnya. Akan tetapi dia tidak melihat didalamnya catatan amal kebaikannya, maka dia berkata,”Ya Tuhanku, dimanakah pahala amal shalatku, puasaku dan amal kebaikanku?’ Maka dikatakan kepadanya,” Hilang seluruh amal kebaikanmu, lantaran kamu mempergunjingkan manusia.” Diberikan pula buku catatan seorang lainnya yang diterima dengan tangan kanannya. Lalu dia melihat pahala amal kebaikan yang begitu banyak yang tidak pernah dilakukannya, maka diucapkan kepadanya:”Inilah catatan amal-amal kebaikan manusia yang telah mempergunjingkanmu, sedang kamu tidak menyadarinya.” Naudzu billahi min dzalik!
Dusta atau bohong juga sangat dilarang, dan larangan itu tidak pandang bulu. Siapapun yang melakukannya, baik penguasa/pejabat, pengusaha, majikan, buruh, Bahkan bohongnya orang tua pada anak yang masih kecil, sering tanpa disadari mengatakan akan memberi sesuatu agar anak mau melakukan apa yang di inginkan orangtua. Itupun dilarang dalam agama.
Diceritakan pada zaman Rasulullah saw ada seorang ibu yang berkata,”kemarilah nak, nanti aku beri sesuatu,” Nabi saw menegur,”Apa yang hendak kamu berikan padanya?” Ibu itu menjawab,”Kurma.” Nabi bersabda,:”Kalau sekiranya kamu tidak benar-benar memberikannya, maka dicatat atasmu sebagai perbuatan dosa.”
Selain Ghibah dan Dusta, ada hal lain yang seolah sudah menjadi lazim dilakukan dan bahkan sepertinya bisa menaikkan gengsi seseorang bila dirinya pandai bersilat lidah, yakni Berbantah-bantahan atau berdebat. Hal ini sering terjadi dalam forum seminar, rapat organisasi, bahkan didalam gedung anggota dewan yang terhormat. Perdebatan yang seru yang tidak lagi disertai akhlaqul karimah bahkan mengarah kepada perpecahan, apalagi dengan cara mencela dan membuka aib lawan bicara, maka itu sudah merupakan suatu dosa dan sungguh sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim/muslimah. Rasulullah saw menjanjikan sebuah gedung di surga bagi orang yang mau meninggalkan perbantahan walaupun dia dalam posisi yang benar.
Di bulan Ramadhan ini, saya ingat Nasehat Guru yang begitu indah, “Ingat nak, kau bisa ungkap perasaanmu lewat perkataan, kau jalin silaturahim lewat sapaan, kau lantunkan ayat-ayat Al Qur’an lewat lisan, kau geluti pekerjaanmu tak lepas dari pembicaraan, tetapi kau juga bisa hancurkan pahala amalmu lewat gunjingan. Mulutmu mutiara yang mendatangkan keuntungan tapi juga sekaligus ‘Mulutmu Harimaumu.”
Dalam lisan atau mulut seorang manusia tersimpan bahaya yang mengintai yang bisa menjerumuskan seseorang kedalam jurang kehancuran, sebagaimana di ingatkan oleh Nabi SAW,”Sesungguhnya sebagian besar dari kesalahan anak Adam itu terletak pada lisannya.”
Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata,”Ketahuilah, hendaklah setiap orang yang telah mencapai umur baligh menjaga lidahnya dari semua ucapan, kecuali ucapan yang bermanfaat. Dan jika perkataannya maupun diamnya sama kadarnya, maka sebaiknya ia diam tidak berbicara, karena terkadang ucapan mudah menyeret seseorang untuk berkata salah hingga mencapai derajat haram maupun makruh, dan hal itu sering terjadi. Tentunya keselamatan anda –dengan menjaga lidah- diatas segalanya.”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:”Lidah itu laksana seekor binatang buas, bila dilepaskan pasti membunuh.”
Saudaraku...Mulut kita memang perlu dijaga, kalau tidak, ia akan menjadi harimau yang siap menerkam kita. Di dunia wibawa seseorang bisa jatuh karena perkataan sendiri, di akherat pahala kebaikan akan hilang dan menjadi pailit.
Ingat pesan Rasulullah saw,:”Man kaana yu’minu billaahi wal yaumil aakhir falyaqul khairan au liyaskut.” Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akherat, maka hendaklah ia berkata yang baik, atau kalau tidak bisa hendaklah ia diam.

Ahmad Faizal Adha. Majlis Dzikr Al Farras Bandung

0 komentar:

Posting Komentar

 

©2009 Ahmad Faizal Adha | Template Blue by TNB