Delapan Penyakit Ruhaniah

|


Delapan Penyakit Ruhaniah
(Bandung, Masjid Baitur Rahman, Jl. Papanggungan, 30 September 2011)
Oleh: Ahmad Faizal Adha
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاسِعِ الْعَظِيْمِ الْبِرِّ الرَّحِيْمِ خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ وَأَنْزَلَ الشَّرْعَ فَيَسَّرَهُ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، بَدَأَ الْخَلْقَ وَأَنْهَاهُ وَيَسَّرَ الْفُلْكَ وَأَجْرَاهُ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، الْقَائِلُ فِي الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: لمسجد أسس على التقوى من أول يوم أحق أن تقوم فيه , فيه رجال يحبون أن يتطهروا , والله يحب المتطهرين.
أَحْمَدُهُ عَلَى جَلاَلِ نُعُوْتِهِ وَكَمَالِ صِفَاتِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَسَوَابِغِ نِعْمَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي أُلُوْهِيَّتِهِ وَرُبُوْبِيَّتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ إِلَى جَمِيْعِ بَرِيَّتِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ فِيْ سُنَتِهِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رحمكم الله ، أوصيكم وإياي نفسى بتقوى الله فقد فاز من اتقى واتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ.
 Hadirin Sidang Jum’at yang berbahagia…
Tak terasa sudah satu bulan kita meningalkan bulan suci ramadhan, melewati bulan syawwal, dan sekarang kita akan menapaki bulan dzulqo’dah, banyak sekali cobaan dan  godaan yang menghampiri, baik yang bersifat materi maupun non-materi. Semoga Allah selalu memberi lindungan-Nya kepada seluruh kaum muslimin khususnya kita yang berada disini. Amin
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah..
Dalam mengarungi bahtera kehidupan, pada umumnya umat manusia tidak terlepas dari penyakit Ruhaniah, Ada yang menyadari bahwa dirinya sedang terkena penyakit, ada yang tidak. Bahkan ada pula orang yang merasa senang bila terserang penyakit, justru penyakitnya itu sengaja dipelihara agar dirinya terlepas dari tanggung jawab sebagaimana halnya orang  yang sehat.
                Rasulullah Saw. Menyebutkan, ada delapan macam penyakit rohaniah yang biasa menyerang manusia. Kedelepan penyakit itu mengganggu ketenangan dan ketentraman hidup, lebih jauh lagi dapat mengakibatkan rusaknya kelangsungan hidup baik terhadap diri pribadi maupun terhadap kehidupan bermasyarakat.
Penyakit yang pertama, ialah (Al-Hammu) atau sifat ragu-ragu. Orang yang memiliki penyakit ini biasanya selalu merasa mendapatkan petaka, senantiasa pula diliputi berbagai macam ketakutan; padahal sebenarnya baik-baik saja. Rasulullah Saw. Telah mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap teguh dan yakin, kalaupun penyakit ini menghampiri, sudah seyogyanya kita lawan dan memohon bimbingan Allah.
                Penyakit yang kedua , yaitu (Al-Huzn) rasa sedih atau dukacita. Rasa sedih atau duka cita itu biasanya diakibatkan karena adanya musibah atau kesulitan yang cukup rumit dan pelik. Dalam menyikapinya pun bermacam-macam bentuk,  ada manusia yang dapat melepaskan rasa sedih, tapi ada pula yang tidak dapat melepaskannya, bahkan ada yang suka memamerkan kesedihannya kepada orang banyak agar mendapat simpatinya.
Apabila rasa sedih atau duka cita terlalu membebani dan menyita kehidupan seseorang, biasanya akan mengurangi semangat hidup, membuat pesimis,dan bahkan membuat hidupnya bagaikan mayat sebagaimana yang telah digambarkan oleh Imam Syafi’I:
ليس الميت فاستراح بميت ولكن الميت ميت الأحياء
“Bukanlah yang disebut mayat itu karena ia meninggal, tetapi sebenarnya mayat itu adalah orang yang telah mati dari kehidupannya”
Dalam hal ini, Allah SWT telah mengingatkan manusia, terutama kepada orang yang sedang diliputi kebingungan dan kesedihan, sebagaimana firman-Nya:
ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الاعلون إن كنتم مؤمنين (ال عمران : 139)
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Imran: 139)
Maka hilangkanlah  segala kesedihan, hadapilah semuanya dengan optimis dan yakin bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan.
                Penyakit yang ketiga adalah (Al-‘Ajzu) lemah, cirri-ciri orang yang memiliki sifat ini ialah tidak memiliki kemampuan hidup, muram, dan hilang semangat untuk berkarya, mudah berputus asa jikalau menemukan kesulitan dalam perjalanan hidupnya. Orang yang seperti itu akan menjadi beban bagi orang lain, sebab kehidupannya sangat tergantung kepada orang lain. Padahal manusia telah diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk yang paling baik, apa lagi kalau disertai iman dan memiliki kehendak dan karya nyata, insya Allah manusia akan memiliki derajat yang tinggi
                Penyakit yang keempat yaitu (Al-Kasalu) sifat malas. Hal ini sudah sangat merajalela, bukan saja yang tua, yang mudapun banyak yang bermalas-malasan, ketahuilah bahwa sifat malas menjadikan seseorang miskin. Miskin ilmu bahkan miskin harta, Orang yang memiliki penyakit ini senantiasa suka menghambur-hambukan waktu secara percuma, tidak mau bekerja, tidak mau belajar, dan hanya berangan-angan. Sesungguhnya Islam tidak menghendaki umatnya tertular penyakit ini, bahkan Islam mencela sifat malas.
                Rasulullah telah mengingatkan dalam hadisnya:
اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، 
وحياتك قبل موتك
                “Ingatlah lima perkara sebelum lima perkara, muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati”, oleh karena itu kita selaku umat islam, sudah seharusnya menggunakan waktu dengan baik, bukan malah menghamburkan dan membuang kesempatan yang diberikan Allah kepada kita.
Penyakit yang kelima yaitu (Al-Jubnu) pengecut. Penyakit ini akan membawa akibat buruk pada seseorang. Hidup tidak memiliki keberanian, tidak mau menerima resiko; untuk membela diri sendiri saja tidak memiliki keberanian, padahal dirinya terhina dan tercampakkan secara tidak wajar. Bagaimana mungkin manusia itu dapat disebut sebagai khalifah dimuka bumi atau sebagai raja atau penguasa, kalau bersifat pengecut dan tidak memiliki keberanian?. Padahal, Rasulullah Saw, telah meneladankan sifat berani dalam segala hal.
                Penyakit yang keenam yaitu (Al-Bukhlu) kikir. Penyakit ini merupakan penyakit rohani yang dapat memutuskan tali silaturahmi  antara muslim, bahkan lebih jauh lagi akan menutup pintu berkah dari Allah SWT. Dan akan mendapat cercaan dari sesama manusia. Kikir atau bahil merupakan  tanda dari kurang sempurnanya iman seseorang. Iman yang sempurna tidak akan menyatu dengan sifat kikir. Karena ia tahu bahwa segala harta dan kekayaan yang ia miliki pada hakekatnya adalah amanat dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Maka apa gunanya kikir terhadap harta, kalau kita akan mati tanpa membawanya?. Dan ingatlah bahwa sebaik-baik harta adalah ilmu dan budi pekerti yang luhur.
                Penyakit yang ketujuh adalah (Gholabatud-dain) lilitan utang. Penyakit ini timbul akibat dari kehidupan yang kurang seimbang dan kurang perhitungan dalam mengatur pendapatan dan pengeluaran, hal ini disebabkan karena melihat pendapatan orang lain yang lebih sehingga terasa kecil apa yang ada pada dirinya. Disatu sisi kemampuan pendapatan yang tidak seberapa, sedangkan disisi lain tuntutan hidup yang tidak sewajarnya berpacu. Akibatnya untuk menutupi segala kekurangan, seseorang akan berhutang sana dan berhutang sini, yang pada akhirnya lilitan utang mengejarnya. Dalam hal ini Rasul telah mengajari kita untuk bersifat qona’ah merasa puas dengan segala pemberian Allah, tidak tamak dan tidak pula kikir.
                Penyakit yang terakhir yaitu (Qohru Rijal) tekanan batin akibat dari cercaan orang. Orang yang terkena penyakit ini biasanya tidak memperlihatkan hasrat dan keinginan dirinya. Hasrat dan keinginannya terpendam dalam hati, tidak mampu  mengutarakannya karena serba salah dan serba takut. Hidupnya senantiasa berada dalam pengaruh dan kekuasaan orang lain, merasa khawatir kalau atasan atau orang yang menguasainya terganggu karena ulahnya. Hal ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan mentaati peraturan yang ada, sehingga timbul suasana yang harmonis antara kedua belah pihak.
               
 Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
                Untuk menghindari kedelapan penyakit tersebut, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud didalam salah satu hadis, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah shalat lima waktu,
اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن وأعوذ بك من العجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبت الدين وقهر الرجال
 “Ya Allah  ! Aku belindung kepada-Mu dari keraguuan hati dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang serta intimidasi orang lain”
Semoga khutbah ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Allah memudahkan kita dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ عدد خلقه ورضاء نفسه وزينة عرشه ومداد كلماته. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن وأعوذ بك من العجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبت الدين وقهر الرجال. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عباد الله ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

0 komentar:

Posting Komentar

 

©2009 Ahmad Faizal Adha | Template Blue by TNB