Potret Haji dan Kurban

|


Potret Haji dan Qurban serta makna di baliknya
(ISID, 3 Dzulhijjah 1432 H)
Oleh: Ahmad Faizal Adha

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاسِعِ الْعَظِيْمِ الْبِرِّ الرَّحِيْمِ، خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ، وَأَنْزَلَ الشَّرْعَ فَيَسَّرَهُ، وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، بَدَأَ الْخَلْقَ وَأَنْهَاهُ وَيَسَّرَ الْفُلْكَ وَأَجْرَاهُ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، الْقَائِلُ فِي الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ.
أَحْمَدُهُ عَلَى جَلاَلِ نُعُوْتِهِ وَكَمَالِ صِفَاتِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَسَوَابِغِ نِعْمَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي أُلُوْهِيَّتِهِ وَرُبُوْبِيَّتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ إِلَى جَمِيْعِ بَرِيَّتِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ فِيْ سُنَتِهِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رحمكم الله ، أوصيكم وإياي نفسى بتقوى الله فقد فاز من اتقى واتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan bulan Dzulhijjah, bulan dimana terdapat dua peristiwa bersejarah dalam Islam, peristiwa yang wajib kita imani dan teladani, yaitu Haji bagi orang yang mampu melaksanakannya, dan Ibadah Qurban bagi seluruh kaum muslimin.
Ibadah Haji dan Qurban merupakan teladan dari Nabi Ibrahim A.S.beserta Nabi Isma’il A.S. putranya,  melambangkan kepatuhan seorang Muslim kepada Allah, maka tak heran bila bulan Dzulhijjah dinamai dengan bulan pengorbanan, pengorbanan seorang hamba demi mentaati perintah Allah SWT.
Adapun orang yang berhaji, mereka berkorban dengan jiwa, raga dan harta.  Mereka rela meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan pekerjaan untuk mencapai tujuannya yaitu melaksanakan rukun Islam kelima.
Betapa banyak nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji, tidak ada agama yang memiliki konsep ibadah seperti konsep ibadah haji dalam Islam. Haji mengandung seribu makna, merangkum sejuta hikmah. Karena itu haji merupakan tiang kelima dari kelima pilar utama dalam Islam.
Keseluruhan rukun dan wajib yang terkandung dalam haji bukanlah sebuah ritual yang dilakukan tanpa ada landasan filosofis dibaliknya, diawali dengan Ihram yaitu mengenakan dua helai kain yang tidak berjahit, semuanya memakai pakaian yang sama, yang berarti menghancurkan perbedaan antara yang kaya dan miskin di hadapan Allah, lalu disusul dengan Thawaf, seluruh manusia berkumpul menjadi satu, hal ini bermakna mentauhidkan Allah. Setelah itu, dilanjutkan dengan Sa’i, ibadah ini melambangkan usaha manusia untuk meraih zam-zam kehidupan. Adapun dengan wuquf, Rasulullah Saw. Bersabda : “Al-Hajju ‘Arafah” (diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasai). Yang artinya Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah.
Wukuf, adalah puncak haji yang sarat akan makna spiritual. Di Arafah lautan manusia berkumpul, tidak ada tanda apapun yang bisa menggambarkan status sosial dengan segala atributnya. Semua sama dihadapan Allah. Dengan begitu, Arafah adalah simbol pembentukan kesejatian manusia. Arafah adalah tempat penghancuran egoisme dan magnet duniawi yang memabukkan. Iman atau kufur. Takwa atau maksiat. Saleh atau jahat. Adil atau dzalim. Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma’rifat pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini, sebagaimana ia menyadari pula betapa besar dan agung Tuhan-Nya.
Dari Arafah para jamaah ke Mudzdalifah untuk mengumpulkan kerikil, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para Jamaah haji melempar Jumrah. Melalui jumrah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, mencontohkan kepada kita bagaimana caranya untuk mengendalikan diri dan hawa nafsu demi menjalankan perintah dari Allah SWT.
Adakah makna yang lebih agung, berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan, dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan di atas? Thawaf menggambarkan larutnya dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi, dan melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan. dengan thawaf pula disadarilah tujuan hidup manusia yaitu menghamba dan mentaati seluruh perintah-Nya. adapun sa’i menggambarkan, tugas seorang manusia yaitu berupaya semaksimal mungkin dalam segala lini kehidupan. Hasil usaha pasti akan diperoleh, baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami oleh Siti Hajar bersama putranya Ismail dengan ditemukannya air Zamzam.
Demikianlah ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah, apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya dalam lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Mendengar pengorbanan para jama’ah yang berhaji, terdetik bagaimana dengan kita selaku umat Islam yang tidak dalam keadaan haji, apakah kita hanya akan diam? Dan menonton pengorbanan para saudara kita di Tanah Suci?, tentu tidak wahai jama’ah sidang Jum’at,  Allah SWT telah memberikan perintah-Nya kepada seluruh hamba-Nya untuk berkurban pada bulan ini.
Adapun pengorbanan yang dapat kita lakukan ialah berkorban dengan menyembelih hewan ternak, sebagaimana keteladanan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وصل لربك وانحر
“maka sembahlah Tuhanmu dan berkorbanlah”
Idul Adha adalah hari untuk mengenang kembali peristiwa penyembelihan Ismail oleh ayahandanya Nabi Ibrahim. Kejadian tersebut merupakan batu ujian ketaatan Ibrahim kepada Allah swt. Di kemudian hari, pengurbanan ini menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban baik berupa kambing maupun sapi setiap tanggal 10 Dzulhijah dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
 Kurban yang secara harfiah berarti mendekatkan, dimaksudkan mendekatkan diri pada Allah dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya mereka yang sengsara. Bila puasa mengajak kita merasakan lapar seperti orang miskin. Maka ibadah kurban mengajak mereka untuk merasakan kenyang seperti kita. Dengan demikian, berkurban memiliki dua makna, pertama, makna sosial. Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadisnya: “…wa man lahu sa’atun, falam yudlahhi, falâ yaqrabanna mushallânâ” (rowaahu Ahmad), Barang siapa yang memiliki kesempatan rezeki untuk berkurban, kemudian ia tidak melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” Hal ini menegaskan tentang pentingnya memerhatikan sesama dan menjauhi sifat egois.
Makna yang kedua, ialah makna esensial, Quraish Shihab menerangkan bahwa apa yang dikurbankan tidak boleh manusia tetapi sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, semacam rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang dan tidak mengenal hukum dan norma apapun. Sifat-sifat demikian inilah yang harus dibunuh, ditiadakan, disembelih, dan dijadikan korban demi mencapai kurban (kedekatan) diri kepada Allah swt. Itu sebabnya Allah mengingatkan: dalam Firman-Nya:
لن ينال الله لحومها ولادمائها ولكن يناله التقوى منكم
“Daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai Allah; tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya (Al-Hajj:37):

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Alangkah meruginya orang yang berhaji tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari hajinya melainkan tabdzir serta lelah. Dan Alangkah meruginya bagi orang yang telah berkorban, tetapi belum memahami arti daripada hal tersebut.
Demikianlah sekelumit tentang makna haji dan Qurban, semoga Allah menjadikan haji kita yang dahulu dan yang akan datang menjadi haji yang mabrur dan juga menerima seluruh amal yang kita perbuat. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ عدد خلقه ورضاء نفسه وزينة عرشه ومداد كلماته. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عباد الله ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

0 komentar:

Posting Komentar

 

©2009 Ahmad Faizal Adha | Template Blue by TNB