Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan

Keutamaan Nisfu Sya'ban

|


Keutamaan Nisfu Sya’ban
Khutbah Jum’at di Masjid Ar-Rohman (Jum'at 29 - 6 - 2012)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذى يهدى من يشاء بفضله، أحمده وسبحانه على سابغ نعمه. و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله وصفيه من خلقه. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين.
أما بعد : فيا أيها الناس اتقوا الله واتقوا يوما لاتجري نفس عن نفس شيئا، ولا يُقبل منها شفاعة ولايُؤخذ منها عدل ولا هم ينصرون. واعلموا أن فى نصف شعبان تُرفع عمل السنة وتُبدل صحف السلف بصحف الجديد،  فمِن ثم جددوا عملكم بأحسن التجديد. وليكن العمل الماضى اعتبارا للعمل المستقبل وكثروا الابتهال والتضرع و الزموا المغفرة بالتوبة والاستغفار فتحشروا فى زمرة الأبرار.

Hadirin, jama’ah Jum’at Rahimakumullah…
Dalam mimbar ini saya mewasiatkan kepada para hadirin dan khususnya untuk saya sendiri, marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT. dengan kualitas takwa yang sesungguhnya. Karena dengan takwa kepada Allah SWT, keridhoan-Nya yang juga disertai dengan rahmat, barokah, dan ampunan-Nya akan turun. Dan hal tersebut akan membawa kita kepada kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah..
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT., karena dengan karunia-Nya kita masih diberi umur panjang hingga kita dapat kembali bertemu dengan bulan Sya’ban, yaitu bulan yang tidak kalah istimewanya dengan bulan rajab, bulan dimana amalan kita akan diangkat dan dilaporkan kepada Allah, sebagaimana hadits berikut:
Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa suatu ketika Sahabat Rasulullah yang bernama Fari Usamah bin Zaid radhiyallâhu ‘anhu, bertanya kepada Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Maka beliau menjawab,
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَب وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعُ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
“Itu adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang sering manusia melupakannya. Dan ia adalah bulan yang padanya segala amalan akan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin. Maka aku senang jikalau ketika amalanku diangkat sementara aku sedang berpuasa.”
Hadits tersebut menjelaskan kepada kita bahwa setiap setahun sekali tepatnya pada bulan Sya’ban, amal-amal manusia yang terangkum dalam sebuah kitab yang biasa ditulis oleh malaikat yang menjaga kita, yaitu Rakib dan Atid akan dilaporkan kepada Allah SWT. Baik itu yang baik dan juga yang buruk. Lalu digantilah kitab itu dengan kitab yang baru. Maka, sudah seharusnya pada bulan ini kita tingkatkan amalan kita dengan memperbanyak amalan baik seperti ibadah puasa dengan harapan ketika buku amalan kita diangkat dan dilaporkan kepada Allah, kita sedang dalam keadaan baik yaitu sedang melaksanakan ibadah puasa. Sebagaimana yang Rasulullah SAW. Contohkan pada hadits diatas.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah..
Keutamaan lainnya yang akan kita dapatkan di bulan sya’ban adalah keutamaan di malam nisfu sya’ban, nisfu merupakan kosakata bahasa arab yang bermakna pertengahan dan sya’ban adalah bulan sya’ban, bila disatukan maka artinya menjadi pertengahan bulan sya’ban... insya Allah malam nisfu sya’ban atau malam pertengahan bulan Sya’ban tahun ini akan jatuh pada rabu malam / malam kamis, 4 juli 2012 yang bertepatan dengan 14 Sya’ban 1433 Hijriyah.
Berkenaan dengan malam ini salah seorang ulama yang bernama ibnu Jauzy meriwayatkan sebuah hadits sebagaimana berikut:
مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَي الْعِيْدَيْنِ وَلَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ
“Barang siapa yang menghidupkan malam dua ‘Ied (yaitu malam idul fitri dan idul adha) dan juga  malam nishfu Sya’ban, niscaya hatinya tidak akan mati pada hari semua hati menjadi mati.”
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali, bahwa Nabi pernah bersabda:   
إذَا كَانَتْ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مَسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهَ أَلاَ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
“Bila datang malam nishfu Sya’ban maka lakukanlah Qiyam Lail dan puasa pada siang harinya, karena ketika matahari terbenam Allah turun pada malam itu ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, adakah yang memohon rezki, niscaya Aku akan memberikannya, adakah yang tertimpa penyakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, hal ini berlanjut hingga terbit fajar.’
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah..
Hadits-hadits diatas termasuk ke dalam hadits yang dijadikan sandaran dalam melaksakan amalan-amalan di bulan Sya’ban, maka tidak ada salahnya bila kita meningkatkan ibadah lebih giat di bulan ini, khussunya di malam nisfu sya’ban nanti. misalnya adalah yang sudah lazim dilakukan, yaitu dengan mengeluarkan sedekah, berpuasa, dan juga memperbanyak shalat malam. utamanya adalah untuk mengharap ridho Allah dan yang kedua adalah mengikuti sunnah yang diteladankan oleh Rasulullah SAW, juga yang telah diteladankan oleh para guru dan sesepuh kita…
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah..
Betapa beruntungnya kita sebagai umat Nabi Muhammad, diberi banyak kemudahan oleh Allah SWT dalam mendapatkan pahala dan juga ridho-Nya.. maka beruntunglah bagi orang yang berusaha untuk mendapatkannya dan sungguh merugi bagi orang yang mengabaikannya.. semoga kita semua yang hadir pada saat ini termasuk kedalam orang yang dibersihkan hatinya, sehingga mau dan siap untuk beramal dan beribadah lebih giat lagi utamanya di bulan sya’ban ini dan juga seterusnya. Dengan harapan semoga kita dipanjangkan umur untuk beribadah kepada Allah, dilapangkan rezeki yang halal untuk bekal dalam beribadah kepada-Nya, dan diberi ketetapan iman meskipun hidup di tengah arus perubahan zaman dimana sendi-sendi budaya Islam mulai rapuh yang diakibatkan oleh ketidakwaspadaan dan kelengahan kita sendiri.. Amin..
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.


Tiga Amalan di Tahun Baru

|


Menyikapi Tahun Baru
(Bandung, 30 Desember 2011, Masjid Baitur Rahman Papanggungan)
Oleh: Ahmad Faizal Adha
إن الحمد لله ، نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونستهديه، ونعوذ به من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده اللهُ فهو المهتد، ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا. أشهد أن­لااله إلا الله وحده لاشريك له،  هو الأول فلا شئ قبله ،  وهو الآخر فلا شئ بعده ، وهو الظاهرفلا شئ فوقه. وأشهد أن سيدَنا وحبيبَنا وعظيمَنا وقائدَنا وقرَّةَ أعينِنَا محمدًا عبده ورسوله وصفيه وحبيبه بلّغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأُمة فجزاه الله عَنَّا خير ما جزى نبيًّا من أنبيائه ، الصلاة والسلام عليك سيدي يا علمَ الهدى يا رسولَ الله أنت طِبُّ القلوب ودواؤُها وعافيةُ الأبدانِ وشفاؤُها ونورُ الأبصار وضياؤُها.
اللهمَّ صلِّ وسلِّم وبارك وأعظِمْ على سيدِنا محمد الذي تنحلُّ به العُقَد وتنفرج به الكُرَب وتُقضَى به الحوائج وتُنالُ به الرغائبُ وحسنُ الخواتيم ويُستَسقَى الغمامُ بوجهه الكريم وعلى ءاله وصحبه الطيبين الطاهرين. أما بعد.
        فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وإياي نفسى بِتَقْوَى اللهِ فقد فاز المتقون، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah..
Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Begitupula dengan roda kehidupan manusia yang selalu silih berganti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Satu saat mendapat puji tapi pada saat yang lain mendapat cacian. Maha Suci Allah yang telah menciptakan ujian tersebut, untuk mengetahui kesungguhan kita dalam mengharap ridho-Nya.
Mengawali kehidupan baru di bulan safar 1433 H, yang bertepatan dengan penghujung tahun 2011 dan awal tahun 2012, diantara langkah yang harus diambil oleh seorang muslim agar tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan kehidupan ialah, harus selalu tawakkal dan memiliki amalan baik.
Islam telah mengajarkan tiga amalan yang harus dijalankan oleh kaum muslimin, amalan yang pertama dan paling utama ialah Istighfar, yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati. Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.
Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloan Allah.
Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Dan jika kesulitan ekonomi tersebut, disebabkan karena kita kurang bisa melakukan terobosan-teroboan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan.
Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang menumpuk dan belum ditaubati secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.
Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya: “Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).
Dengan Istighfar akan membuka pintu taubat, dan akan memudahkan seseorang untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan jalan yang Allah Ridhoi.
Setelah memohon ampunan atas kesalahan yang diperbuat, amalan selanjutnya yang tidak kalah utamanya ialah Istikharah, yaitu selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan. Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta selalu memohon petunjuk kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ) رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة(
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari ini dan bicaralah esok hari). Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tetapi jika ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab kebenaran dan keadilan harus ditegakkan.
Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda:
أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ) رواه البيهقي عن جابر(
Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi suatu saat engkau pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi dari Jabir).
Sabda Nabi Muhammad SAW ini semakin penting untuk diresapi ketika melihat fenomena akhir-akhir ini, yang dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar lalu bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan etika agama . Para pakar barang kali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat.
Maka dari itu, seyogyanya kita melaksanakan istikharah dalam segala langkah, agar kita bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari. Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ.
Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)
Amalan yang ketiga atau terakhir ialah Istiqomah. yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. Begitu pentingnya istiqomah ini, sampai Nabi Muhammad SAW berpesan kepada Abu Sufyan sebagaimana berikut:
عن أبى سفيان بن عبد الله رضي الله عنه قال : قلت يا رسول الله
قُلْ لى قولا فى الإسلام قولا لاأسأله عنه أحدا غيرك ، قال: قُلْ أمنت بالله ثم اسْتَقِمْ. (رواه مسلم).
Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).
Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan iman, sehingga bisa melewati cobaan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan duniawi yang bertumpuk, ibadah tidak ikut redup. kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram dan halal, dicaci atau dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan. Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam Al-Qur-an surat Fushshilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah..
Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan TIGA IS di atas yaitu Istighfar, Istikharah dan Istiqomah.
Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan di bulan dan tahun yang baru ini dengan keimanan dan rahmatNya yang melimpah. Amin
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.
 

Delapan Penyakit Ruhaniah

|


Delapan Penyakit Ruhaniah
(Bandung, Masjid Baitur Rahman, Jl. Papanggungan, 30 September 2011)
Oleh: Ahmad Faizal Adha
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاسِعِ الْعَظِيْمِ الْبِرِّ الرَّحِيْمِ خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ وَأَنْزَلَ الشَّرْعَ فَيَسَّرَهُ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، بَدَأَ الْخَلْقَ وَأَنْهَاهُ وَيَسَّرَ الْفُلْكَ وَأَجْرَاهُ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، الْقَائِلُ فِي الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: لمسجد أسس على التقوى من أول يوم أحق أن تقوم فيه , فيه رجال يحبون أن يتطهروا , والله يحب المتطهرين.
أَحْمَدُهُ عَلَى جَلاَلِ نُعُوْتِهِ وَكَمَالِ صِفَاتِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَسَوَابِغِ نِعْمَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي أُلُوْهِيَّتِهِ وَرُبُوْبِيَّتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ إِلَى جَمِيْعِ بَرِيَّتِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ فِيْ سُنَتِهِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رحمكم الله ، أوصيكم وإياي نفسى بتقوى الله فقد فاز من اتقى واتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ.
 Hadirin Sidang Jum’at yang berbahagia…
Tak terasa sudah satu bulan kita meningalkan bulan suci ramadhan, melewati bulan syawwal, dan sekarang kita akan menapaki bulan dzulqo’dah, banyak sekali cobaan dan  godaan yang menghampiri, baik yang bersifat materi maupun non-materi. Semoga Allah selalu memberi lindungan-Nya kepada seluruh kaum muslimin khususnya kita yang berada disini. Amin
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah..
Dalam mengarungi bahtera kehidupan, pada umumnya umat manusia tidak terlepas dari penyakit Ruhaniah, Ada yang menyadari bahwa dirinya sedang terkena penyakit, ada yang tidak. Bahkan ada pula orang yang merasa senang bila terserang penyakit, justru penyakitnya itu sengaja dipelihara agar dirinya terlepas dari tanggung jawab sebagaimana halnya orang  yang sehat.
                Rasulullah Saw. Menyebutkan, ada delapan macam penyakit rohaniah yang biasa menyerang manusia. Kedelepan penyakit itu mengganggu ketenangan dan ketentraman hidup, lebih jauh lagi dapat mengakibatkan rusaknya kelangsungan hidup baik terhadap diri pribadi maupun terhadap kehidupan bermasyarakat.
Penyakit yang pertama, ialah (Al-Hammu) atau sifat ragu-ragu. Orang yang memiliki penyakit ini biasanya selalu merasa mendapatkan petaka, senantiasa pula diliputi berbagai macam ketakutan; padahal sebenarnya baik-baik saja. Rasulullah Saw. Telah mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap teguh dan yakin, kalaupun penyakit ini menghampiri, sudah seyogyanya kita lawan dan memohon bimbingan Allah.
                Penyakit yang kedua , yaitu (Al-Huzn) rasa sedih atau dukacita. Rasa sedih atau duka cita itu biasanya diakibatkan karena adanya musibah atau kesulitan yang cukup rumit dan pelik. Dalam menyikapinya pun bermacam-macam bentuk,  ada manusia yang dapat melepaskan rasa sedih, tapi ada pula yang tidak dapat melepaskannya, bahkan ada yang suka memamerkan kesedihannya kepada orang banyak agar mendapat simpatinya.
Apabila rasa sedih atau duka cita terlalu membebani dan menyita kehidupan seseorang, biasanya akan mengurangi semangat hidup, membuat pesimis,dan bahkan membuat hidupnya bagaikan mayat sebagaimana yang telah digambarkan oleh Imam Syafi’I:
ليس الميت فاستراح بميت ولكن الميت ميت الأحياء
“Bukanlah yang disebut mayat itu karena ia meninggal, tetapi sebenarnya mayat itu adalah orang yang telah mati dari kehidupannya”
Dalam hal ini, Allah SWT telah mengingatkan manusia, terutama kepada orang yang sedang diliputi kebingungan dan kesedihan, sebagaimana firman-Nya:
ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الاعلون إن كنتم مؤمنين (ال عمران : 139)
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Imran: 139)
Maka hilangkanlah  segala kesedihan, hadapilah semuanya dengan optimis dan yakin bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan.
                Penyakit yang ketiga adalah (Al-‘Ajzu) lemah, cirri-ciri orang yang memiliki sifat ini ialah tidak memiliki kemampuan hidup, muram, dan hilang semangat untuk berkarya, mudah berputus asa jikalau menemukan kesulitan dalam perjalanan hidupnya. Orang yang seperti itu akan menjadi beban bagi orang lain, sebab kehidupannya sangat tergantung kepada orang lain. Padahal manusia telah diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk yang paling baik, apa lagi kalau disertai iman dan memiliki kehendak dan karya nyata, insya Allah manusia akan memiliki derajat yang tinggi
                Penyakit yang keempat yaitu (Al-Kasalu) sifat malas. Hal ini sudah sangat merajalela, bukan saja yang tua, yang mudapun banyak yang bermalas-malasan, ketahuilah bahwa sifat malas menjadikan seseorang miskin. Miskin ilmu bahkan miskin harta, Orang yang memiliki penyakit ini senantiasa suka menghambur-hambukan waktu secara percuma, tidak mau bekerja, tidak mau belajar, dan hanya berangan-angan. Sesungguhnya Islam tidak menghendaki umatnya tertular penyakit ini, bahkan Islam mencela sifat malas.
                Rasulullah telah mengingatkan dalam hadisnya:
اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، 
وحياتك قبل موتك
                “Ingatlah lima perkara sebelum lima perkara, muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati”, oleh karena itu kita selaku umat islam, sudah seharusnya menggunakan waktu dengan baik, bukan malah menghamburkan dan membuang kesempatan yang diberikan Allah kepada kita.
Penyakit yang kelima yaitu (Al-Jubnu) pengecut. Penyakit ini akan membawa akibat buruk pada seseorang. Hidup tidak memiliki keberanian, tidak mau menerima resiko; untuk membela diri sendiri saja tidak memiliki keberanian, padahal dirinya terhina dan tercampakkan secara tidak wajar. Bagaimana mungkin manusia itu dapat disebut sebagai khalifah dimuka bumi atau sebagai raja atau penguasa, kalau bersifat pengecut dan tidak memiliki keberanian?. Padahal, Rasulullah Saw, telah meneladankan sifat berani dalam segala hal.
                Penyakit yang keenam yaitu (Al-Bukhlu) kikir. Penyakit ini merupakan penyakit rohani yang dapat memutuskan tali silaturahmi  antara muslim, bahkan lebih jauh lagi akan menutup pintu berkah dari Allah SWT. Dan akan mendapat cercaan dari sesama manusia. Kikir atau bahil merupakan  tanda dari kurang sempurnanya iman seseorang. Iman yang sempurna tidak akan menyatu dengan sifat kikir. Karena ia tahu bahwa segala harta dan kekayaan yang ia miliki pada hakekatnya adalah amanat dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Maka apa gunanya kikir terhadap harta, kalau kita akan mati tanpa membawanya?. Dan ingatlah bahwa sebaik-baik harta adalah ilmu dan budi pekerti yang luhur.
                Penyakit yang ketujuh adalah (Gholabatud-dain) lilitan utang. Penyakit ini timbul akibat dari kehidupan yang kurang seimbang dan kurang perhitungan dalam mengatur pendapatan dan pengeluaran, hal ini disebabkan karena melihat pendapatan orang lain yang lebih sehingga terasa kecil apa yang ada pada dirinya. Disatu sisi kemampuan pendapatan yang tidak seberapa, sedangkan disisi lain tuntutan hidup yang tidak sewajarnya berpacu. Akibatnya untuk menutupi segala kekurangan, seseorang akan berhutang sana dan berhutang sini, yang pada akhirnya lilitan utang mengejarnya. Dalam hal ini Rasul telah mengajari kita untuk bersifat qona’ah merasa puas dengan segala pemberian Allah, tidak tamak dan tidak pula kikir.
                Penyakit yang terakhir yaitu (Qohru Rijal) tekanan batin akibat dari cercaan orang. Orang yang terkena penyakit ini biasanya tidak memperlihatkan hasrat dan keinginan dirinya. Hasrat dan keinginannya terpendam dalam hati, tidak mampu  mengutarakannya karena serba salah dan serba takut. Hidupnya senantiasa berada dalam pengaruh dan kekuasaan orang lain, merasa khawatir kalau atasan atau orang yang menguasainya terganggu karena ulahnya. Hal ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan mentaati peraturan yang ada, sehingga timbul suasana yang harmonis antara kedua belah pihak.
               
 Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
                Untuk menghindari kedelapan penyakit tersebut, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud didalam salah satu hadis, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah shalat lima waktu,
اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن وأعوذ بك من العجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبت الدين وقهر الرجال
 “Ya Allah  ! Aku belindung kepada-Mu dari keraguuan hati dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang serta intimidasi orang lain”
Semoga khutbah ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Allah memudahkan kita dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ عدد خلقه ورضاء نفسه وزينة عرشه ومداد كلماته. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن وأعوذ بك من العجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبت الدين وقهر الرجال. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عباد الله ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

Potret Haji dan Kurban

|


Potret Haji dan Qurban serta makna di baliknya
(ISID, 3 Dzulhijjah 1432 H)
Oleh: Ahmad Faizal Adha

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاسِعِ الْعَظِيْمِ الْبِرِّ الرَّحِيْمِ، خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ، وَأَنْزَلَ الشَّرْعَ فَيَسَّرَهُ، وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، بَدَأَ الْخَلْقَ وَأَنْهَاهُ وَيَسَّرَ الْفُلْكَ وَأَجْرَاهُ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، الْقَائِلُ فِي الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ.
أَحْمَدُهُ عَلَى جَلاَلِ نُعُوْتِهِ وَكَمَالِ صِفَاتِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَسَوَابِغِ نِعْمَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي أُلُوْهِيَّتِهِ وَرُبُوْبِيَّتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ إِلَى جَمِيْعِ بَرِيَّتِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ فِيْ سُنَتِهِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رحمكم الله ، أوصيكم وإياي نفسى بتقوى الله فقد فاز من اتقى واتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan bulan Dzulhijjah, bulan dimana terdapat dua peristiwa bersejarah dalam Islam, peristiwa yang wajib kita imani dan teladani, yaitu Haji bagi orang yang mampu melaksanakannya, dan Ibadah Qurban bagi seluruh kaum muslimin.
Ibadah Haji dan Qurban merupakan teladan dari Nabi Ibrahim A.S.beserta Nabi Isma’il A.S. putranya,  melambangkan kepatuhan seorang Muslim kepada Allah, maka tak heran bila bulan Dzulhijjah dinamai dengan bulan pengorbanan, pengorbanan seorang hamba demi mentaati perintah Allah SWT.
Adapun orang yang berhaji, mereka berkorban dengan jiwa, raga dan harta.  Mereka rela meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan pekerjaan untuk mencapai tujuannya yaitu melaksanakan rukun Islam kelima.
Betapa banyak nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji, tidak ada agama yang memiliki konsep ibadah seperti konsep ibadah haji dalam Islam. Haji mengandung seribu makna, merangkum sejuta hikmah. Karena itu haji merupakan tiang kelima dari kelima pilar utama dalam Islam.
Keseluruhan rukun dan wajib yang terkandung dalam haji bukanlah sebuah ritual yang dilakukan tanpa ada landasan filosofis dibaliknya, diawali dengan Ihram yaitu mengenakan dua helai kain yang tidak berjahit, semuanya memakai pakaian yang sama, yang berarti menghancurkan perbedaan antara yang kaya dan miskin di hadapan Allah, lalu disusul dengan Thawaf, seluruh manusia berkumpul menjadi satu, hal ini bermakna mentauhidkan Allah. Setelah itu, dilanjutkan dengan Sa’i, ibadah ini melambangkan usaha manusia untuk meraih zam-zam kehidupan. Adapun dengan wuquf, Rasulullah Saw. Bersabda : “Al-Hajju ‘Arafah” (diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasai). Yang artinya Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah.
Wukuf, adalah puncak haji yang sarat akan makna spiritual. Di Arafah lautan manusia berkumpul, tidak ada tanda apapun yang bisa menggambarkan status sosial dengan segala atributnya. Semua sama dihadapan Allah. Dengan begitu, Arafah adalah simbol pembentukan kesejatian manusia. Arafah adalah tempat penghancuran egoisme dan magnet duniawi yang memabukkan. Iman atau kufur. Takwa atau maksiat. Saleh atau jahat. Adil atau dzalim. Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma’rifat pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini, sebagaimana ia menyadari pula betapa besar dan agung Tuhan-Nya.
Dari Arafah para jamaah ke Mudzdalifah untuk mengumpulkan kerikil, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para Jamaah haji melempar Jumrah. Melalui jumrah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, mencontohkan kepada kita bagaimana caranya untuk mengendalikan diri dan hawa nafsu demi menjalankan perintah dari Allah SWT.
Adakah makna yang lebih agung, berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan, dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan di atas? Thawaf menggambarkan larutnya dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi, dan melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan. dengan thawaf pula disadarilah tujuan hidup manusia yaitu menghamba dan mentaati seluruh perintah-Nya. adapun sa’i menggambarkan, tugas seorang manusia yaitu berupaya semaksimal mungkin dalam segala lini kehidupan. Hasil usaha pasti akan diperoleh, baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami oleh Siti Hajar bersama putranya Ismail dengan ditemukannya air Zamzam.
Demikianlah ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah, apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya dalam lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Mendengar pengorbanan para jama’ah yang berhaji, terdetik bagaimana dengan kita selaku umat Islam yang tidak dalam keadaan haji, apakah kita hanya akan diam? Dan menonton pengorbanan para saudara kita di Tanah Suci?, tentu tidak wahai jama’ah sidang Jum’at,  Allah SWT telah memberikan perintah-Nya kepada seluruh hamba-Nya untuk berkurban pada bulan ini.
Adapun pengorbanan yang dapat kita lakukan ialah berkorban dengan menyembelih hewan ternak, sebagaimana keteladanan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وصل لربك وانحر
“maka sembahlah Tuhanmu dan berkorbanlah”
Idul Adha adalah hari untuk mengenang kembali peristiwa penyembelihan Ismail oleh ayahandanya Nabi Ibrahim. Kejadian tersebut merupakan batu ujian ketaatan Ibrahim kepada Allah swt. Di kemudian hari, pengurbanan ini menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban baik berupa kambing maupun sapi setiap tanggal 10 Dzulhijah dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
 Kurban yang secara harfiah berarti mendekatkan, dimaksudkan mendekatkan diri pada Allah dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya mereka yang sengsara. Bila puasa mengajak kita merasakan lapar seperti orang miskin. Maka ibadah kurban mengajak mereka untuk merasakan kenyang seperti kita. Dengan demikian, berkurban memiliki dua makna, pertama, makna sosial. Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadisnya: “…wa man lahu sa’atun, falam yudlahhi, falâ yaqrabanna mushallânâ” (rowaahu Ahmad), Barang siapa yang memiliki kesempatan rezeki untuk berkurban, kemudian ia tidak melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” Hal ini menegaskan tentang pentingnya memerhatikan sesama dan menjauhi sifat egois.
Makna yang kedua, ialah makna esensial, Quraish Shihab menerangkan bahwa apa yang dikurbankan tidak boleh manusia tetapi sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, semacam rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang dan tidak mengenal hukum dan norma apapun. Sifat-sifat demikian inilah yang harus dibunuh, ditiadakan, disembelih, dan dijadikan korban demi mencapai kurban (kedekatan) diri kepada Allah swt. Itu sebabnya Allah mengingatkan: dalam Firman-Nya:
لن ينال الله لحومها ولادمائها ولكن يناله التقوى منكم
“Daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai Allah; tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya (Al-Hajj:37):

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Alangkah meruginya orang yang berhaji tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari hajinya melainkan tabdzir serta lelah. Dan Alangkah meruginya bagi orang yang telah berkorban, tetapi belum memahami arti daripada hal tersebut.
Demikianlah sekelumit tentang makna haji dan Qurban, semoga Allah menjadikan haji kita yang dahulu dan yang akan datang menjadi haji yang mabrur dan juga menerima seluruh amal yang kita perbuat. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ عدد خلقه ورضاء نفسه وزينة عرشه ومداد كلماته. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عباد الله ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

 

©2009 Ahmad Faizal Adha | Template Blue by TNB